Tips Anak Tips AnakRangkuman praktis dan ulasan ringan untuk keseharian.
parenting

Saat Tantrum Melanda: Cara Tenang yang Saya Pelajari dari Pengalamn

Mengatasi tantrum balita dengan pendekatan tenang dan empati. Cerita nyata dari Telukdalam yang bisa dicoba orangtua muda.

29 Apr 2026 · 2 menit baca · oleh Lukita Setiawan
Saat Tantrum Melanda: Cara Tenang yang Saya Pelajari dari Pengalamn

Pernah suatu siang di pasar Telukdalam, anak saya yang baru dua tahun tiba-tiba merebahkan diri di lantai dan menjerit kencang. Semua mata tertuju pada kami. Saya cuma ingat betapa panasnya muka saya dan betapa inginnya ikut nangis. Itu tantrum pertamanya—dan saya nggak siap sama sekali. Sejak hari itu saya mulai paham bahwa tantrum bukan musuh, melainkan sinyal dari anak yang belum bisa ngungkapin perasaannya.

Kenapa Tantrum Terjadi?

Otak balita masih berkembang, terutama bagian yang ngatur emosi dan logika. Menurut Ikatan Dokter Anak Indonesia, tantrum adalah ledakan emosi normal pada anak usia 1–4 tahun. Pemicunya bisa lelah, lapar, overstimulasi, atau keinginan yang nggak terpenuhi. Dulu saya sering nganggap ini “ulah manja”, tapi setelah baca dan tanya dokter anak di puskesmas Telukdalam, saya sadar ini bagian dari tumbuh kembang. Anak saya belum bisa bilang “Aku capek” atau “Aku kesal”. Jadinya dia nangis dan ngamuk.

Cara Saya Menghadapinya Tanpa Teriak

Setelah beberapa kali gagal—pernah saya ikut teriak, pernah saya ninggalin dia di tempat umum—saya nemuin pola yang paling cocok. Pertama, saya tetap di sampingnya tanpa banyak bicara. Saya duduk atau jongkok setinggi matanya. Kedua, saya nggak nurutin permintaannya waktu tantrum, tapi juga nggak hukum. Saya cuma bilang pelan, “Ibu di sini, sayang. Nanti kalau udah tenang, kita bicara.” Ketiga, sesudah reda, saya peluk dan kasih nama perasaannya: “Kamu marah tadi karena kue belum jadi, ya?” Ini namanya labeling emotion dan terbukti bantu anak mengenali emosinya. Perlahan, durasi tantrumnya makin pendek. Dia mulai bisa merangkul saya saat marah.

Ibu menenangkan anak yang tantrum

Konsistensi di Semua Tempat

Setelah berhasil di rumah, saya coba terapin di pasar, taman, dan rumah nenek. Di awal, anak saya nguji apakah aturan tetap sama di tempat lain. Saya harus sabar—tetap nggak ngabulin tuntutan pas dia ngamuk, tetap nunggu sampai tenang. Keluarga dan tetangga sempat heran kenapa saya nggak “mukul pantat” anak. Tapi seiring waktu mereka lihat sendiri anak saya lebih cepet tenang dan jarang ngamuk lama. Kuncinya bukan ngilangin tantrum, tapi ngajarin dia cara pulih dari kekesalan.

Ibu berjongkok menenangkan anak

Tantrum nggak bakal ilang dalam semalem. Ada hari baik, ada hari berat. Tiap kali saya berhasil tetap tenaang, saya merasa lagi nanem benih kecerdasan emosional pada anak. Dan itu, menurut saya, jauh lebih berharga daripada sekadar bikin anak diem.

Catatan: sumber resmi

Tag: #tantrum #parenting #anak balita #tips anak