Tips Anak Sehari-hari: Menyiasati Waktu Bermain dan Belajar

Setiap pagi, sebelum berangkat kerja, sya selalu menyempatkan diri duduk bersama anak di teras rumah. Di Telukdalam, udara pagi masih segar. Saya mengamati bagaimana ia sibuk dengan balok-balok kayu yang berserakan. Kadang saya ikut duduk di lantai, merangkai bentuk bersama. Dari momen-momen kecil itulah saya belajar bahwa anak-anak punya ritme sendiri. Tugas kita bukan memaksakan jadwal, melainkan menyelaraskan.
Selama tujuh tahun menulis soal parenting, saya menemukan bahwa kunci membantu anak menjalani hari-harinya tanpa rewel adalah konsistensi yang dibungkus dengan kelenturan. Saya sering mendengar keluhan sesama ibu bekerja di grup WhatsApp tetangga: “Anak saya susah diajak belajar. Lebih suka main gadget.” Padahal, menurut saya, belajar dan bermain bukan dua hal yang terpisah. Anak saya, misalnya, lebih mudah memahami angka ketika saya selipkan dalam permainan masak-masakan. Saya minta ia menghitung sendok atau piring plastik. Tanpa sadar, ia belajar berhitung sambil tertawa Pengalaman serupa saya tulis di tips anak.
Saya juga menerapkan aturan sederhana: setelah mandi sore, kami punya waktu “me time” bersama. Saya matikan ponsel, ia jauhkan mainan elektronik. Kami membaca buku cerita bergambar atau menggambar di kertas bekas. Di sinilah saya melihat bagaimana imajinasinya berkembang. Ia bercerita tentang ikan terbang yang tinggal di balik lemari. Saya tidak mengoreksi, hanya mendengarkan. Menurut Wikipedia Indonesia, bermain peran dan bercerita membantu perkembangan kognitif dan bahasa anak. Metode ini tidak perlu mahal atau rumit. Yang dibutuhkan adalah kehadiran penuh orangtua.
Bermain Sambil Belajar: Menemukan Titik Keseimbangan
Tantangan terbesar adalah saat anak mogok makan atau tantrum karna lelah. Sya dulu sering panik. Kini saya belajar memberi jeda sebntar. Jika ia menolak belajar, saya tunda setengah jam. Saya ajak ia ke dapur, minta bantu mencuci sayur. Aktivitas sederhana ini menjadi transisi dari bermain ke belajar tanpa paksaan. Anak jadi lebih rileks, dan saya tidak perlu membentak.
Saya sadar, setiap anak unik. Tips ini mungkin tidak cocok untuk semua. Tapi dari pengalaman saya bersama anak di Telukdalam, pendekatan yang santai dan penuh cerita justru membuat ia lebih kooperatif. Orangtua hanya perlu sedikit kreatif dan banyak sabar. Tidak ada yang instan, tetapi setiap hari memberi kesempatan baru untuk belajar bersama. Bangeet.

Bahan bacaan: sumber resmi